Andalan Air Tawar
01 April 2008
Membenihkan Baung, Merintis Budidaya

Ikan baung kini bisa dengan mudah dibudidayakan

Ikan baung (Mystus nemurus) jenis ikan asli Indonesia yang biasa hidup di sungai-sungai besar, anak sungai, rawa dan danau di Jawa (ikan tagih), Sumatera, Bangka dan Kalimantan.
Di pasaran, selain dalam bentuk segar, ikan baung juga dijual dalam bentuk olahan berupa ikan salai (ikan asap). Harganya berkisar antara Rp 25.000 sampai Rp 30 ribu per kilo. Sayangnya, meski bernilai ekonomis tinggi, belum banyak yang mengusahakan budidaya ikan karnivor (pemakan daging) ini. Pasalnya benih ikan baung sulit diperoleh, selama ini hanya mengandalkan pasokan dari alam.
Tapi kabar gembira datang dari Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Mandiangin yang telah berhasil melakukan budidaya ikan pemakan udang, serangga dan ikan-ikan kecil tersebut. Teknologi budidaya ini pun akan dengan mudah diadopsi masyarakat.

Budidaya Baung
Dalam makalah bersamanya, Bunasir, Puji Widodo, George Fauzan dan Syafrudin dari BBAT Mandiangin, menguraikan usaha budidaya ikan baung yang dilakukan di BBAT. 
Dimulai dengan seleksi induk yang sudah matang gonad (siap memijah) dengan ukuran di atas 500 gram per ekor. Untuk induk jantan paling tidak berumur satu tahun dengan ciri-ciri badan ramping, kelaminnya panjang dan runcing, sperma bening dan kental. Sedangkan yang betina umurnya satu setengah tahun dengan ciri-ciri perut besar dan lembek, lubang kelamin kemerahan, telur berwarna bening kecoklatan.
Selanjutnya proses penyuntikan hormon ovaprim dengan dosis 0,5 ml/kg untuk betina dan 0,25 ml/kg untuk jantan. Penyuntikan untuk betina dilakukan dua kali dan jantan satu kali dengan interval selama 6 jam. Kemudian induk jantan dan betina ditampung terpisah dalam akuarium atau fiber.
Untuk pembenihan, sperma harus disiapkan paling tidak satu jam sebelumnya. Selain itu juga dilakukan pengecekan terhadap induk betina siap ovulasi, 6 sampai 8 jam setelah penyuntikan kedua. Lalu sperma dan telur dicampur dan ditebar ke akuarium. Daya tetas (fekunditas) ikan baung bisa mencapai 40 ribu sampai 90 ribu butir per ekor.
Telur ikan baung ini akan menetas setelah 27 sampai 30 jam kemudian. Selanjutnya larva dipelihara di akuarium selama 15 hari. Pakan untuk benih adalah artemia dan cacing tubifex. Benih bisa dipanen dan siap didederkan di kolam setelah mencapai ukuran 1,5 cm sampai 2 cm dengan tingkat daya hidup (SR) 80-90%.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi April 2008