Kolom & Opini
01 January 2008
Keseimbangan Baru Industri Pakan & Bisnis Perunggasan Nasional

Oleh: Dr. Ir. Arief Daryanto, M.Ec.
Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis-IPB
(MB-IPB)

Pakan merupakan aspek penting dalam usaha ternak selain bibit. Di samping itu, pakan dari segi finansial juga merupakan faktor yang memiliki peranan paling besar dalam hal biaya produksi dibandingkan dengan faktor-faktor lainnya, sehingga penerapan program pakan yang tidak sesuai dapat mengakibatkan pembengkakan biaya produksi dan dapat memperkecil profit values yang diperoleh. Dari seluruh total pakan nasional yang ada, sekitar 83 persen digunakan untuk peternakan unggas. Pengunaan pakan pada produksi unggas mencapai sekitar 60 sampai 70 persen dari total biaya produksi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pakan adalah sapronak yang sangat penting dalam usaha produksi ternak.
Kebutuhan pakan terus meningkat seiring dengan peningkatan permintaan terhadap produk-produk peternakan, khususnya komoditas unggas (daging ayam dan telur) akibat adanya pertambahan penduduk, peningkatan pendapatan serta peningkatan kesadaran akan gizi seimbang. Tren permintaan terhadap pakan ternak cenderung meningkat, yaitu dari 5,75 juta ton pada tahun 2001 menjadi 7,10 juta ton pada tahun 2005. Bahkan, laju pertumbuhan konsumsi pakan ternak diperkirakan akan mencapai 10 persen pada tahun 2005 hingga 2010. Oleh karena itu, pakan memiliki peran strategis dalam memajukan industri peternakan terutama agribisnis perunggasan di masa mendatang.

Harga Pakan dan Dampaknya Bagi Bisnis Perunggasan
Peran pakan sebagai input terbesar dalam peternakan unggas nasional menuntut ketersediaan bahan baku pakan yang memadai baik dari segi kuantitas, kualitas, delivery dan kontinuitasnya. Sayangnya, komponen pakan masih banyak bergantung pada impor, terutama sumber protein (kedelai, tepung ikan, dan meat bone meal) dan jagung. Bahan baku jagung memiliki posisi tertinggi sebagai pakan unggas dengan porsi sekitar 60 sampai 70 persen. Hal ini didukung oleh jumlah industri pakan ternak yang memanfaatkan jagung sebagai bahan baku sebanyak 67 perusahaan dengan kapasitas terpasang sebesar 12 juta ton per tahun. Dalam 20 tahun ke depan, penggunaan jagung untuk pakan diperkirakan terus meningkat dan bahkan setelah tahun 2020 lebih dari 60 persen dari total kebutuhan nasional.
Jika tidak ada peningkatan produksi jagung domestik secara signifikan, ketergantungan bahan baku pakan terhadap impor jagung secara langsung akan memukul industri pakan ternak nasional karena harga jagung impor akan mengikuti dinamika harga pasar di internasional. Berdasarkan data Chicago Board of Trade (CBOT), pada tahun ini harga jagung dunia mencapai tingkat tertinggi dalam 10 tahun terakhir. Kondisi harga bahan baku pakan rata-rata akan mengalami kenaikan minimal 40 persen dengan merujuk harga pakan Juli sampai November 2007. Data yang dirilis oleh GPMT menyebutkan bahwa harga jagung internasional berada di posisi US$220/ton-US$306/ton sehingga mengalami kenaikan mencapai 39 persen.  Ditambah lagi, biaya freight dari USA naik dari US$ 60/ton menjadi US$ 145/ton. Harga jagung internasional diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan peningkatan harga minyak dunia. Hal ini didasarkan pada pengembangan jagung yang digunakan juga sebagai salah satu bahan baku biofuel berkembang semakin pesat. Konsumsi jagung yang meningkat untuk pengembangan biofuel sebagai salah satu alternatif bahan bakar terutama di negara-negara maju membuat harga jagung dunia meningkat sekaligus akan mengurangi pasokan jagung untuk pakan ternak.
Penggunaan jagung yang terserap untuk keperluan bahan baku etanol akibat dari kenaikan harga minyak dunia menimbulkan persaingan baru antara penggunaan jagung untuk food, feed dan fuel. Tidak heran jika industri pakan ternak lebih merasakan dampak nyata dari kelangkaan pasokan bahan baku jagung yang mencerminkan terjadinya kenaikan harga pakan ternak akibat persaingan tersebut.
Besarnya kontribusi pakan terhadap biaya produksi diperkirakan akan mendorong kenaikan harga produk hasil unggas (harga telur dan daging) di Indonesia. Kedua komoditas tersebut saat ini merupakan sumber proten hewani yang relatif terjangkau untuk meningkatkan kesehatan dan kecerdasan masyarakat. Dengan demikian, tidak ada pilihan lain untuk menyusun langkah-langkah yang tepat dan cepat untuk mengatasi ketergantungan bahan baku impor bagi industri pakan ternak sehingga gejolak harga pasar dunia tidak secara langsung mempengaruhi biaya produksi agribisnis perunggasan.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Januari 2008