Hot Issue
01 March 2009
Udang Windu: Meski Lesu Terus Diburu

Degradasi lingkungan tambak dan tak ada kepastian pasar jadi alasan utama tak banyak petambak tertarik budidaya windu

Daun Avicennia itu masih basah saat dipungut Qosim. Tapi lelaki 55 tahun itu tak peduli. Dia akan menunggu daun mangrove tersebut hingga menguning dan kering untuk kemudian dibusukkan dalam proses fermentasi. Menurut petambak udang windu yang telah memulai usahanya sejak 1998 ini, hasil fermentasi daun Avicennia bisa menstabilkan PH dan salinitas tambaknya yang kian tercemar oleh lumpur Lapindo.
Karena tingkat pencemaran yang kian tinggi inilah maka H.N Qosim dan ratusan petambak lainnya di Sidoarjo, Jawa Timur, saat ini dipaksa lebih giat lagi memupuk tambaknya. Sebab panen sekarang tak bisa semelimpah dulu seperti ketika lumpur Lapindo belum dibuang ke Sungai Porong (sumber air tambak). Pasalnya, kadar fenol tambak kini jadi tinggi sehingga membuat produksi windu di sana anjlok sampai 70%. Sampai-sampai, PT SK Food?perusahaan Jepang yang menyerap udang Qosim dan kawan-kawannya?kini harus mencari udang windu sampai ke Makassar.
Namun sebagaimana di Sidoarjo, lingkungan tambak di hampir seluruh wilayah Indonesia saat ini kondisinya sangat memprihatinkan sehingga usaha budidaya windu kerap menemui kegagalan. Inilah alasan utama yang membuat Jepang mengalihkan impor udang windu mereka dari Indonesia ke Vietnam, meski sebenarnya Negeri Samurai itu sangat tergila-gila dengan cita rasa windu dari tanah air. ?Jepang telah mengalihkan impor udang windu mereka dari Indonesia ke Vietnam,? kata Johan Suryadarma, Ketua Asosiasi Pengusaha Coldstorage Indonesia (APCI) ? Jatim kepada TROBOS.
Sayang memang, tapi apa mau dikata. Produksi udang bernama latin Penaeus monodon tersebut di dalam negeri kian merosot. Direktur Perbenihan, Ditjen Perikanan Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Ketut Sugama menyebutkan, produksi windu saat ini hanya sekitar 15% dari total produksi udang nasional yang didominasi oleh udang vannamei. Dan kini, Indonesia harus gigit jari melepas Jepang berburu macan hitam (black tiger ? sebutan lain  udang windu) ke Vietnam.
Jepang, kata Johan merupakan konsumen terbesar udang windu. Di sana, udang jenis ini diolah menjadi teppanyaki, yaitu daging ikan, ayam atau udang yang dimasak dengan cara dipanggang di atas wajan datar beralas tebal (plat besi). Jika menggunakan jenis udang windu, maka hasil panggangan udang akan terlihat berwarna merah menyala sehingga menggugah selera makan.
Sementara jika menggunakan udang putih (vannamei) hasil panggangan udang akan tampak merah pucat. Selain itu,  ukuran udang windu juga lebih besar (size 25 ? 20) sehingga lebih menarik. Sedangkan udang vannamei berukuran lebih kecil (size 31 ? 40). Dan Jepang memilih udang windu dari Indonesia karena memiliki cita rasa yang khas dibandingkan dengan udang windu dari negara lain. Tapi, pengembangan budidaya windu di bumi pertiwi ini sungguh lambat sehingga produksinya tak bisa memenuhi permintaan saudara tuanya, Jepang.
Bahkan jumlah petambak yang membudidayakan udang windu terus menyusut. Mereka lebih memilih membudidayakan udang vannamei yang dianggap lebih tahan banting terhadap penyakit dan budidayanya lebih cepat. ?Kita hanya terpaku pada pengembangan vannamei dan melupakan windu sehingga produksi windu turun,? kata Johan menyayangkan. Sebaliknya, sambung Johan, Vietnam justru sekarang giat untuk mengembangkan windu.  Hal yang sama pun dilakukan oleh beberapa negara Asia lainnya, antara lain India, Bangladesh dan Thailand.
Bahkan menurut Johan, produksi windu di Thailand saat ini mencapai sekitar 30% dari total produksi udang mereka. Sebagai raja produsen udang windu dunia kini adalah Vietnam disusul India dan Bangladesh. Wajar jika kemudian Jepang mengalihkan impor windu mereka dari Indonesia ke Vietnam.
Padahal di era 80-an sampai awal 90-an, Indonesia ? lah yang merajai percaturan udang internasional dengan windu. Tak cuma itu, alam Indonesia juga menyimpan induk-induk windu dengan jumlah melimpah. Namun justru negara lain yang memanfaatkan kekayaan alam Indonesia tersebut. ?Induk-induk windu asli Indonesia ada yang dicuri negara lain dan dikembangkan di negaranya,? kata Sugama.

Tak Kapok Budidaya Windu
Terlepas dari masalah kekayaan alam Indonesia yang dicuri, faktanya Indonesia telah kalah dalam hal pengembangan udang windu dengan negara lain. Sebut saja Vietnam. Negeri Paman Ho tersebut tak pernah kapok untuk memproduksi windu, meski seperti Indonesia, budidaya windu di sana juga berkali-kali dihajar penyakit.
Sebagaimana pernah diulas TROBOS (edisi Desember 2008), pada sebuah seminar di World Aquaculture 2008 di Busan, Korea, Cheng Wen Chin, General Manager Uni President Vietnam (penyelenggara seminar)  mengatakan, banyak petambak Vietnam yang tetap berkeinginan untuk membudidayakan windu. Ketertarikan mereka karena ukuran windu bisa lebih besar dari udang vannamei sehingga nilainya akan lebih besar pula.
Pada kesempatan itu pula, Nguyen Van Trong, Deputi Direktur Insitut Riset 2 Vietnam mengemukakan, pada 2006, budidaya udang windu mencapai hampir 70% dari total luas area budidaya udang di sana. Produksinya pada tahun tersebut mencapai 324.700 ton, sementara produksi udang vannamei hanya 6.000 ton.
Walau demikian, produksi windu di Vietnam juga tak lepas dari kendala. Nguyen mengaku bahwa mereka masih sangat lemah dalam hal pengontrolan Post Larvae (PL) benih udang sehingga tak sedikit ditemukan benih dengan kualitas buruk. Hal ini mengakibatkan periode budidaya menjadi lebih lama sementara udang tak bisa berkembang.
Selain itu perbedaan biaya produksi yang besar antara budidaya udang windu dan udang vannamei, membuat udang windu jadi kurang kompetitif jika dibandingkan dengan udang vannamei. Budidaya udang windu di Vietnam juga mengalami kerugian  besar akibat serangan virus WSSV (white spot syndrom virus). Kerusakan lahan budidaya akibat serangan virus tersebut mencapai 45 000 ha.
Tetapi justru dari sinilah Vietnam belajar memperbaiki sistem budidaya udang windu. Mereka kini mulai memberikan perhatian lebih demi perbaikan kualitas PL benih udang. Untuk pencegahan penyakit mereka melakukan pengecekan dengan PCR pada PL20. Sementara untuk menjaga kelestarian usaha, Vietnam menerapkan penebaran benih yang aman yaitu 20 ? 30 PL/m2 dalam budidaya windu intensif. Hal ini dibarengi dengan penerapan BMP (Best Management Practices) dan GAP (Good Aquaculture Practise) secara ketat pula.

 

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Maret 2009