Ikan Mas Terseok Mendongkrak Produksi
Sepanjang kurun waktu 2004 sampai 2009, catatan produksi ikan mas nasional menunjukkan angka menurun dari tahun ke tahun. Ini diakui sekaligus dialami Ade Misbah, salah seorang pengusaha budidaya Keramba Jaring Apung (KJA) di Waduk Cirata, Jawa Barat. Pengusaha ikan mas kawakan itu mengakui, produksi ikan masnya mulai anjlok di akhir 2004. Kala itu, 1.500 ton ikannya di KJA habis dihajar virus KHV (Koi Herpes Virus). “Waktu itu saya rugi sampai Rp 5,3 miliar,” tutur Ade pahit, kepada TROBOS awal Februari lalu di Cianjur.
Pemerintah pun saat itu kemudian mengeluarkan larangan perpindahan ikan antar provinsi untuk mencegah penyebaran penyakit. Sejak itu, produksi ikan mas Ade sulit pulih. Kalau di masa 2001 ia bisa memasok ikan mas ke Sumatera sampai 400 ton per bulan atau sekitar 15 ton per hari, hari ini ia mengaku hanya bisa memasok 3 – 3,5 ton per hari.
Pasokan yang minim pun berdampak di harga. Sekarang ikan mas di tingkat pembudidaya di Waduk Cirata dihargai Rp 16.500,- per kg. Tingginya harga jual tersebut, menurut Ade justru makin tidak menguntungkan usaha budidaya ikan mas. Karena daya serap konsumen dengan harga setinggi itu makin turun. “Idealnya ikan mas di jual Rp 13.500 per kg, serapan akan membaik,” Ade menganalisis.
Tak Sebanyak Dulu
Nasib serupa dialami para pembudidaya di Waduk Saguling yang dalam sejarah dikenal pembudidaya utama ikan mas. Dikatakan Munawar Sojali yang Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan KJA “Lewi Tampian Jaya” Desa Karang Anyar, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, sejak 1985 yang dibudidayakan di KJA Saguling hanya ikan mas.
Lebih lanjut ia menjelaskan, awalnya produksi di waduk itu terus meningkat. Tetapi kemudian hampir setiap tahun mengalami kematian ikan secara serentak dan dalam jumlah besar. Pengalaman terburuk, saat pembudidaya ikan mas mengalami kematian ikan mas siap panen sampai 2 ton per unit KJA. Penurunan produksi ikan mas di Saguling ini terjadi sekitar 1992. “Diperparah krisis moneter 1998 harga pakan melonjak, banyak pembudidaya KJA gulung tikar,” getir Munawar berkisah. Sekarang ikan mas di Saguling tidak sebanyak dulu. Nila, patin, dan bawal mulai banyak dipilih pembudidaya KJA dengan alasan risiko kematian kecil dan harga jual semakin bersaing.
Meski demikian, kata Munawar, ikan mas tetap menjadi komoditas utama. “Pertimbangannya harga ikan mas stabil dan pasar cukup besar,” ujar pemilik 50 petak KJA itu. Menurut dia, harga jual ikan mas di tingkat pembudidaya KJA Saguling sekitar Rp 12.500 per kg. Bahkan bisa naik sampai Rp 14 ribu per kg, terutama di bulan April dan Mei. Pada bulan tersebut para pembudidaya baru tebar benih, sehingga pasokan ikan mas berkurang.
Ade membenarkan, harga jual ikan mas stabil, tidak pernah di bawah Rp 10 ribu. Berbeda dengan jenis ikan lainnya yang harganya kerap anjlok. Selain harga relatif stabil, permintaan konsumen akan ikan air tawar ini masih cukup besar. Sayangnya, produksi belum bisa mengimbangi permintaan pasar tersebut.
Melihat peluang tersebut, ikan mas masih menjadi komoditas andalan bagi Ade Misbah. Dari sekitar 140 petak KJA yang dimilikinya, 70% diisi ikan mas dan sisanya diisi nila, patin, lele, dan bawal. Pemasarannya lebih banyak di Jawa Barat dan Sumatera. Serapan Jawa Barat sekitar 25%, sementara yang 75% ke Lampung dan Sumatera. Permintaan ikan untuk Lampung dan Sumatera ukuran 1-3 ekor per kg, sementara untuk Jawa Barat ukuran antara 4 – 7 ekor per kg. Saat ini pengiriman ikan mas ke Lampung dan Sumatera Selatan rata-rata setiap hari sekitar 1,8 ton.
Untuk memenuhi pasokan Ade juga menampung ikan mas dari pembudidaya KJA lainnya. Ia menerapkan sistem kemitraan dengan kelompok pembudidaya. “Saya sediakan pakan, panen ikan kita serap, hasilnya dipotong biaya pakan,” ujar Ade. Ada sekitar 300 petak KJA yang dikelola sekitar 30 pembudidaya ikan yang menjalin pola kemitraan dengannya.
Menyiasati Kematian Massal
Peluang yang besar dari bisnis ikan mas masih menyisakan ancaman yang tidak sepele. Pembudidaya belum bisa tenang lantaran kematian massal masih kerap dialami. Penyebab utama kematian diduga ada dua, karena upwelling (proses pengadukan dasar perairan) atau bisa juga karena serangan KHV.
Menurut Penyuluh Perikanan Bandung Barat, Nafis M, “Budidaya ikan mas masih menjadi daya tarik para pembudidaya KJA, selama kendala kematian dan penyakit bisa di atasi.” Dan disebutnya, proses upwelling tidak berhubungan langsung terhadap serangan penyakit KHV.
Berbagai upaya telah dilakukan pembudidaya guna menyiasati kendala kematian ini. Salah satunya dengan mengurangi kepadatan tebar benih. Langkah ini sudah ditempuh Ade Misbah sejak 2004. Ukuran satu petak KJA yang tadinya 7 x 7 m2, kini diperbesar jadi 7 x 14 m2. Kalau dulu satu petak (7 x 7 m2) biasa tebar benih 60 kg, sekarang 1 petak (7 x 14 m2) hanya tebar benih 80 kg. Otomatis dari jumlah benih yang ditebar produksi ikan mas menurun sekitar 40%. “Itu pun, kasus kematian terus saja terjadi setiap tahun,” kata Ade tak habis pikir.
Selama terjadi serangan penyakit, para pembudidaya juga memuasakan ikan. “Puasa dilakukan supaya ikan lebih banyak bergerak di dasar jaring. Diindikasi, virus banyak terdapat di permukaan air,” kata Ade. Atau pembudidaya ada yang memindahkan ikan mas di jaring lapis kedua yang lebih dalam, supaya ikan tidak muncul ke permukan. “Tetapi dua cara ini hanya efektif ketika ikan belum terinfeksi virus. Jika sudah terkena percuma saja,” tegas Ade.
Upaya pengaturan musim tebar pun dilakukan untuk menghindari dampak negatif upwelling. Belajar dari pengalaman, menurut Agus Hidayat pembudidaya ikan mas di Saguling asal Desa Tanjung Jaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, mulai Oktober sampai Desember atau masa pergantian musim kemarau ke hujan, para pembudidaya tidak menebar ikan mas. Masa pancaroba ini riskan terjadi upwelling. Pembudidaya biasanya tebar lagi antara Februari sampai Agustus. “Pola pengaturan musim tebar mulai diterapkan 2004,” kata Agus. Dengan pola seperti itu, kematian ikan mas akibat upwelling budidaya ikan mas bisa ditekan.
Sementara untuk serangan KHV, menurut dia sudah jarang terjadi. Agus menduga ini karena ada program penebaran berbagai jenis ikan pemakan bakteri dan plankton merugikan yang ada di dasar perairan, sehingga kondisi lingkungan perairan lebih sehat dan bersih. “Tren budidaya ikan mas 2 tahun belakangan di Saguling mulai menggeliat meski belum sebanyak dulu,” kata Agus. Beberapa lokasi perairan Saguling relatif aman dari serangan upwelling, seperti Kecamatan Cipongkor, Cihampelas, dan Cililin. Sumber air dari sungai Citarum yang terkadang mambawa limbah, bisa dinetralisir sumber air dari Gunung wayang relatif lebih bersih.
Nafis menambahkan, jumlah pembudidaya KJA di Saguling sekitar 7 ribu orang. Secara total produksi budidaya ikan mas untuk Kabupaten Bandung Barat masih yang paling besar ketimbang jenis ikan lainnya (lihat tabel). Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan, produksi ikan mas nasional pada 2008 sekitar 243 ribu ton, hampir setengahnya dipasok dari Jabar (sekitar 110 ton). Dan sentranya ada di waduk Cirata dan Saguling.
Biaya Produksi Tinggi
Selain masalah risiko kematian, usaha budidaya ikan mas masih dihadapi tantangan tingginya biaya produksi. Rata-rata biaya produksi ikan mas di KJA Saguling Rp 10 ribu per kg, sedangkan di Cirata Rp 12 ribu. Perbedaan tersebut terjadi karena umumnya pembudidaya di Saguling membeli pakan dengan modal sendiri, sementara di Cirata dengan pola kemitraan.
Lebih lanjut Munawar mencontohkan, 1 kuintal benih ikan mas sampai panen menghabiskan pakan pellet sekitar 2 ton. Sementara ikan nila hanya butuh sekitar 1 ton pellet, selebihnya bisa diberi pakan sisa seperti sosis, roti, dan bahan sisa lainnya. Ikan mas menuntut sepenuhnya pakan pellet. Harga pakan ikan mas saat ini sekitar Rp 590 ribu per kuintal.
Selengkapnya baca di Majalah TROBOS edisi Maret 2010









