Agri Ternak
01 December 2008
Beternak Cacing Tanah, Justru Mengundang Selera

Cukup dua minggu, dua produk dipanen sekaligus. "Saya biasa kirim cacing ke Malaysia dengan harga Rp 80 ribu/kg dan pupuk bekasnya terjual minimal Rp 1000/kg"

Bagi kebanyakan orang, cacing tanah bisa jadi menggelikan dan menjijikkan. Namun tidak bagi Warno, lelaki mantan kontraktor yang kini menggeluti usaha agribisnis. Alih-alih disingkirkan, bagi Warno, cacing adalah sumber penghidupan. " Saya memproduksi 1 ton per minggu," ujarnya. Di bawah bendera CV Alam Makmur Raya, tak hanya nafkah keluarganya terpenuhi, tetapi juga 26 KK (Kepala Keluarga) tetangga yang menjadi tenaga kerja Warno turut kecipratan rejeki.

Kebanyakan, cacing ternakannya digunakan sebagai bahan baku obat, bahan kosmetik. Dan sebagian lainnya sebagai bibit untuk pengolah kotoran ternak guna menghasilkan pupuk organik berkualitas tinggi.

Jangan dikira, harga si gelang melata ini cukup mencengangkan. Untuk pasar lokal Warno memasarkannya Rp 50 ribu/kg. Untuk ekspor, tentu lebih tinggi. "Saya biasa kirim ke Malaysia dengan harga Rp 80 ribu/kg," ungkap kakek dua cucu ini. Lebih ternganga lagi, jumlah cacing yang dia ekspor ke negeri jiran itu tak tanggung-tanggung. " Saya kirim ke Malaysia rata-rata 2 ton/bulan. Sekali kirim biasanya 500 kg." Demikian tutur Warno saat TROBOS bertandang ke rumahnya di desa Cibodas, Lembang ?Bandung.

Kascing, Produk Penting

Tak hanya cacing satu-satunya produk dari budidaya si gelang ini. Bekas "sarang cacing" yang umum disebut kascing (bekas cacing) ternyata memiliki nilai jual yang tak kalah menggiurkan. Se kilo kascing yang dicampur dengan kotoran sapi sebagai pupuk dijual dengan harga paling rendah Rp 1000/kg. Hitung saja tambahan pendapatannya bila budidaya itu tiap bulan mampu memproduksi kascing sedikitnya 150 ton. Padahal produk sampingan ini cukup laris. Sejak 2002 telah memasarkan kascing hingga luar negeri. Tidak tanggung-tanggung, negara yang dipasok pupuknya itu adalah Jepang,

Tak hanya negeri Sakura, pupuk kascing buatan Warno yang lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) ini juga telah masuk ke Korea. Sayangnya sejak 2004 ekspor pupuk ke negara-negara tersebut rada tersendat. Tak menyerah, pria asli asal Wonogiri ini, yang telah menggeluti budidaya cacing sejak 1998, kini menjajaki pasar Amerika. Sekarang sedang mengurus perijinannya, tutur Warno yang juga mempromosikan produk cacing dan kascingnya melalui situs perdagangan internasional, www.alibaba.com.

Warno memperkirakan, di masa mendatang permintaan terhadap kascing akan meninggi. Ini mengingat kebutuhan pangan kian erat mengacu pada keamanan pangan, menghindari hal-hal berbau kimia, termasuk pupuk. Kabar yang diterimanya mengisyaratkan, 2010 Indonesia tidak membolehkan lagi adanya pabrik pupuk kimia tunggal.

"Jadi harus pabrik pupuk kimia plus organik. Dan ini tidak di Indonesia saja, di Malaysia pun sama seperti itu, makanya Malaysia banyak mendatangkan cacing dari sini. Bahkan sudah ada dua perusahaan yang menawarkan pada saya untuk tinggal dan bekerja disana. Hingga mau menampung semua keluarga saya. Tapi saya ingin memajukan dulu yang di Indonesia", Warno mengungkap.

3 ? 4 x lipat

Ia tak memungkiri, pupuk dari semata kotoran ternak pun sudah terbilang cukup baik. Namun, berdasarkan hasil uji laboratorium, Warno mengatakan, kandungan mikro organik pada kascing bisa 3 ? 4 kali lipat lebih baik dari pupuk kandang biasa. Hal ini juga diungkapkan Hasanudin Firmasyah, peternak sapi perah yang kini secara mandiri mengelola limbah ternaknya dengan menggunakan kascing.

" Saya menggunakan kascing untuk keperluan lahan hijauan. Hasilnya memang lebih baik," ujar Hasan yang memelihara 80 sapi perah. Hasan yang kini masih memanfaatkan kascing untuk kebutuhan sendiri, telah membuat perencanaan jangka panjang. " Target, tahun 2010 saya memproduksi pupuk kascing 20 ton/hari. Saya sudah punya relasi perkebunan sawit di Palembang yang siap menampung. Kebutuhan 1 ha lahan paling tidak 10 ton kascing, padahal dia punya lahan 10 ribu ha," ungkap alumni Universitas Padjajaran ini sambil sesekali menunjukkan kotak-kotak tempat memelihara cacing yang saban hari ditambahnya.

Budidaya dengan Limbah

Meski nama tenarnya ?cacing tanah?, tetapi tak selalu tanah yang menjadi media pembudidayaan cacing ini. Dalam mengembangkan bisnisnya Warno mengaku menggunakan dua jenis media. Yakni kotoran sapi dan ampas aren. Setiap hari tak kurang 10 ton kotoran sapi (setara dua truk) didatangkan untuk media tanam cacing.

Di Lembang, untuk memperloleh kotoran sapi dalam jumlah banyak setiap hari tidaklah hal sulit. "Di sini banyak peternak sapi perah," kata Warno. Sebelum kotoran sapi ditanami bibit cacing, ada satu perlakuan yang diberikan. "Dicampur dulu dengan limbah jamur (media bekas menanam jamur-red) 10 ? 15%. Cacing tidak bisa hidup di tempat yang banyak mengandung air. Pencampuran limbah jamur akan membuat kotoran sapi yang awalnya berbentuk bubur dapat berubah menjadi semacam pasta. "

Akan halnya ampas aren, dapat digantikan dengan ampas tahu maupun ampas singkong. Ini digunakan khusus untuk membudidayakan atau membesarkan cacing yang akan digunakan sebagai bahan obat. "Untuk obat, kita semaksimal mungkin menghindari najis, " Warno meyakinkan. Al hasil, dengan cara ini Warno telah mengantongi sertifikat "halal" dari MUI (Majelis Ulama Indonesia) untuk produk-produk obat dari cacing yang dibudidayakannya.

Selengkapnya baca Majalah TROBOS edisi Desember 2008